N.A.D :
Lembah Alas
Sumatra Utara : Madekdek Magambiri
Sumatra Barat :
Mak Inang
Riau : Kutang Barendo
Kep. Riau : Pak Ngah Balek
Jambi : Timang-Timang Anakku Sayang
Bengkulu : Lalan Belek
Kep. Bangka Belitung : Yok Miak
Sumatra Selatan : Kabile-Bile
Lampung : Cangget Agung
Banten : Dayung Sampan
Jakarta : Jali-Jali
Jawa Tengah : Gambang Suling
Yogyakarta : Pitik Tukung
Jawa Timur : Cublak-cublak Suweng
Jawa Barat : Tokecang
Kalimantan Selatan :
Paris Barantai
Kalimantan Tengah : Tumpi Wayu
Kalimantan Barat :
Cik-Cik Periuk
Kalimantan Timur : Oh Adingkoh
Bali :
Dewa Ayu
Nusa Tenggara Barat : Tutu Koda
Nusa Tenggara Timur :
Desaku
Sulawesi Utara : Tan Mahurang
Gorontalo : Binde Biluhuta
Sulawesi Barat : Io-Io
Sulawesi Tengah : Tondok Kadadiangku
Sulawesi Selatan :
Ma Rencong
Sulawesi Tenggara : Peia Tawa-Tawa
Maluku : Siwalima Arika
Papua Barat : Yamko Rambe Yamko
Rabu, 28 Mei 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Tradisi - Tradisi Unik di Lombok
Selain terkenal dengan keindahan panoramanya, Lombok juga memiliki beberapa Tradisi yang unik. Beberapa diantaranya adalah :
1. Bau Nyale
Disebut "Bau Nyale" bukan karena Nyalenya yang bau y =D disebut demikian karena dalam bahasa Sasak "Bau" itu memiliki arti "Mengambil".Nyale sendiri memiliki arti "cacing laut". Jadi Bau Nyale adalah upacara perburuan cacing laut untuk menyambut Pasola. Biasanya acara ini diselenggrakan sekitar bulan Februari dan Maret. Untuk menyambutnya biasanya masyarakat telah melakukan berbagai macam ritual dari jauh-jauh hari. Salah satunya dilakukan di rumah masing-masing, malam hari sebelum upacara dilakukan.
Beberapa ritual yang dilakukan biasanya adalah potong ayam dan membuat ketupat. Ini disebabkan karena ritual ini erat kaitannya dengan kegiatan Pasola untuk melihat baik dan buruknya nasib seseorang yang akan ikut dalam Pasola.
Sang pemimpin adat atau rato melihat hasil olahan ayam dan ketupat. Apabila ayam panggang masih mengeluarkan darah dari ususnya, dan ketupat yang telah masak, ada yang berwarna merah, atau kecoklatan, maka diyakini ini merupakan pertanda buruk. Yakni anggota keluarga yang ikut Psola, akan mendapat bahaya, seperti menderita luka-luka, atau bahkan meninggal dunia.
Ketika malam semakin larut, para rato yang bertugas mengamati munculnya bulan purnama, segera bersiap-siap memakai pakaian kebesaran rato (Atau biasa disebut rowa rato). Biasanya ritual ini dilakukan dengan cara berdoa di atas batu kubur (nisan) dan menghadap ke arah bulan purnama.
Dengan menghadap ke arah bulan purnama, para rato bisa memastikan ketepatan dan posisi bulan, serta keadaan gelombang laut di pantai. Dari situlah akan diputuskan saatnya nyale. Begitu nyale atau cacing laut sudah terlihat, seluruh warga yang telah berkumpul sejak subuh, memulai perburuannya.
Tradisi ini berasal dari cerita rakyat Lombok yang berjudul "Putri Mandalika". Jadi Nyale diibaratkan sebagai perwujudan Putri Mandalika.
2.Perang Topat
Perang topat adalah sebuah acara adat yang diadakan di Pura Lingsar, Lombok. Perang ini merupakan simbol perdamaian antara umat Muslim dan Hindu di Lombok. Acara ini dilakukan pada sore hari, setiap bulan purnama ke tujuh dalam penanggalan Suku Sasak. Sore hari yang merupakan puncak acara yang dilakukan setelah salat ashar atau dalam bahasa Sasak “rarak kembang waru” (gugur bunga waru) Tanda itu dipakai oleh orang tua dulu untuk mengetahui waktu salat Ashar. Ribuan umat Hindu dan Muslim memenuhi Pura Lingsar, dua komunitas umat beda kepercayaan ini menggelar prosesi upacara Puja Wali, sebagai ungkapan atas puji syukur limpahan berkah dari sang pencipta. 'Perang' yang dimaksud disini bukan perang saling bunuh - bunuhan gitu tapi saling melempar ketupat di antara masyarakat Muslim dengan masyarakat Hindu. Ketupat yang telah digunakan untuk berperang seringkali diperebutkan, karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panennya bisa maksimal. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan.
Topat atau Ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dibungkus menggunakan anyaman daun kelapa yang masih muda.
3.Kawin Lari
Kawin lari merupakan tindakan melarikan seorang wanita tanpa izin, yang bertujuan untuk hidup bersama maupun menikah. Tradisi ini masih terjadi di wilayah Lombok, khususnya bagi masyarakat Suku Sasak.
1. Bau Nyale
Disebut "Bau Nyale" bukan karena Nyalenya yang bau y =D disebut demikian karena dalam bahasa Sasak "Bau" itu memiliki arti "Mengambil".Nyale sendiri memiliki arti "cacing laut". Jadi Bau Nyale adalah upacara perburuan cacing laut untuk menyambut Pasola. Biasanya acara ini diselenggrakan sekitar bulan Februari dan Maret. Untuk menyambutnya biasanya masyarakat telah melakukan berbagai macam ritual dari jauh-jauh hari. Salah satunya dilakukan di rumah masing-masing, malam hari sebelum upacara dilakukan.
Beberapa ritual yang dilakukan biasanya adalah potong ayam dan membuat ketupat. Ini disebabkan karena ritual ini erat kaitannya dengan kegiatan Pasola untuk melihat baik dan buruknya nasib seseorang yang akan ikut dalam Pasola.
Sang pemimpin adat atau rato melihat hasil olahan ayam dan ketupat. Apabila ayam panggang masih mengeluarkan darah dari ususnya, dan ketupat yang telah masak, ada yang berwarna merah, atau kecoklatan, maka diyakini ini merupakan pertanda buruk. Yakni anggota keluarga yang ikut Psola, akan mendapat bahaya, seperti menderita luka-luka, atau bahkan meninggal dunia.
Ketika malam semakin larut, para rato yang bertugas mengamati munculnya bulan purnama, segera bersiap-siap memakai pakaian kebesaran rato (Atau biasa disebut rowa rato). Biasanya ritual ini dilakukan dengan cara berdoa di atas batu kubur (nisan) dan menghadap ke arah bulan purnama.
Dengan menghadap ke arah bulan purnama, para rato bisa memastikan ketepatan dan posisi bulan, serta keadaan gelombang laut di pantai. Dari situlah akan diputuskan saatnya nyale. Begitu nyale atau cacing laut sudah terlihat, seluruh warga yang telah berkumpul sejak subuh, memulai perburuannya.
Tradisi ini berasal dari cerita rakyat Lombok yang berjudul "Putri Mandalika". Jadi Nyale diibaratkan sebagai perwujudan Putri Mandalika.
2.Perang Topat
Perang topat adalah sebuah acara adat yang diadakan di Pura Lingsar, Lombok. Perang ini merupakan simbol perdamaian antara umat Muslim dan Hindu di Lombok. Acara ini dilakukan pada sore hari, setiap bulan purnama ke tujuh dalam penanggalan Suku Sasak. Sore hari yang merupakan puncak acara yang dilakukan setelah salat ashar atau dalam bahasa Sasak “rarak kembang waru” (gugur bunga waru) Tanda itu dipakai oleh orang tua dulu untuk mengetahui waktu salat Ashar. Ribuan umat Hindu dan Muslim memenuhi Pura Lingsar, dua komunitas umat beda kepercayaan ini menggelar prosesi upacara Puja Wali, sebagai ungkapan atas puji syukur limpahan berkah dari sang pencipta. 'Perang' yang dimaksud disini bukan perang saling bunuh - bunuhan gitu tapi saling melempar ketupat di antara masyarakat Muslim dengan masyarakat Hindu. Ketupat yang telah digunakan untuk berperang seringkali diperebutkan, karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panennya bisa maksimal. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan.
Topat atau Ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dibungkus menggunakan anyaman daun kelapa yang masih muda.
3.Kawin Lari
Kawin lari merupakan tindakan melarikan seorang wanita tanpa izin, yang bertujuan untuk hidup bersama maupun menikah. Tradisi ini masih terjadi di wilayah Lombok, khususnya bagi masyarakat Suku Sasak.
Adat istiadat suku sasak dapat anda saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan meracik atau selarian.
Caranya cukup sederhana, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Bila ingin menikah, gadis itu dibawa. Mencuri gadis dengan melarikan dari rumah menjadi prosesi pernikahan yang lebih terhormat dibandingkan meminta kepada orang tuanya. Ada rasa ksatria yang tertanam jika proses ini dilalui. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki.
Setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. 'Nyelabar', istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orangtua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.
Rombongan 'nyelabar' terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekedar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.
Caranya cukup sederhana, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Bila ingin menikah, gadis itu dibawa. Mencuri gadis dengan melarikan dari rumah menjadi prosesi pernikahan yang lebih terhormat dibandingkan meminta kepada orang tuanya. Ada rasa ksatria yang tertanam jika proses ini dilalui. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki.
Setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. 'Nyelabar', istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orangtua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.
Rombongan 'nyelabar' terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekedar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.
Selasa, 28 Mei 2013
Baju Adat Indonesia
Setiap Provinsi di Indonesia tentunya memiliki baju adat yang berbeda, hal ini lah yang menjadikan Indonesia negara yang sangat beragam.... Apa saja baju adat Indonesia??? Lihat di bawah ini :D
Pulau Sumatera :
> NAD : Pidie
> Sumatera Utara : Karo
> Sumatera Barat : Batu Sangkar
> Riau : Teluk Belanga dan Kebaya Labuh
> Kepulauan Riau : Teluk Belanga dan Kebaya Labuh
> Jambi : Jambi
> Sumatera Selatan : Aisan Gede
> Bangka Belitung : Aisan Gede
> Bengkulu : Bengkulu
> Lampung : Tulang Bawang
Pulau Jawa :
> DKI Jakarta : Abang dan None
> Jawa Barat : Jawa Barat
> Banten : Pakaian Pengantin
> Jawa Tengah : Jawa
> DI Yogyakarta : Jogjakarta
> Jawa Timur : Madura
Nusa Tenggara & Bali :
> Bali : Payas Agung
> NTB : Sumbawa
> NTT : Nusa Tenggara Timur
Pulau Kalimantan :
> Kalimantan Barat : Perang
> Kalimantan Tengah : Sinjang (Barito)
> Kalimantan Selatan : Banjar
> Kalimantan Timur : Urang Besunung
Pulau Sulawesi :
> Sulawesi Utara : Minahasa
> Sulawesi Barat : Sulawesi Barat
> Sulawesi Tengah : Kulavi (Donggala)
> Sulawesi Tenggara : Babung Ginasamani
> Sulawesi Selatan : Toraja
> Gorontalo : Sundi dan Biliu
Maluku :
> Maluku : Maluku
> Maluku Utara : Maluku
Pulau Papua :
> Papua Barat : Serui
> Papua : Asmat
Kamis, 08 November 2012
Cara untuk Melestarikan Budaya dan Kesenian Indonesia
Di era globalisasi ini, kita harus melestarikan budaya Indonesia. Apalagi di jaman sekarang ini banyak generasi muda yang tidak peduli dengan kebudayan Indonesia. Agar budaya Indonesia tetap lestari ada cara - cara yang bisa kita lakukan seperti :
^ Memberikan pengertian kepada generasi muda betapa pentingnya budaya Indonesia untuk dilestarikan
^ Mengajarkan anak - anak untuk bermain alat musik tradisional atau belajar menari tradisional
^ Menetapkan hak paten agar kebudayaan Indonesia tidak diklaim negara lain
^ Sering menampilkan budaya Indonesia di acara - acara kenegaraan
View - Like - Share this link
https://www.youtube.com/watch?v=ZO-Ei1R2ZJ8
Thank you so much!!
Nama Rumah Adat di Indonesia
Provinsi Sumatera Utara : Rumah balai batak toba
Provinsi Sumatera Barat : Rumah gadang
Provinsi Riau : Rumah melayu selaso jatuh kembar
Provinsi Jambi : Rumah panggung
Provinsi Sumatera Selatan : Rumah limas
Provinsi Bengkulu : Rumah bubungan lima
Provinsi Lampung : Nuwo sesat
Provinsi DKI Jakarta : Rumah kebaya
Provinsi Yogyakarta : Rumah joglo
Provinsi Jawa Barat : Kesepuhan
Provinsi Jawa Tengah : Rumah joglo
Provinsi Jawa Timur : Rumah joglo
Provinsi Bali : Gapura candi bentar
Provinsi Nusa Tenggara Timur : Sao ata mosa lakitana
Provinsi Nusa Tenggara Barat : Dalam loka samawa
Provinsi Kalimantan Barat : Rumah panjang
Provinsi Kalimantan Tengah : Rumah betang
Provinsi Kalimantan Selatan : Rumah banjar
Provinsi Kalimantan Timur : Rumah lamin
Provinsi Sulawesi Utara : Rumah bolaang mongondow
Provinsi Sulawesi Tengah : Souraja / Rumah besar
Provinsi Sulawesi Selatan : Tongkonan
Provinsi Sulawesi Tenggara : Laikas
Provinsi Papua Jayapura : Rumah Honai
![]() |
| Gapura candi bentar |
![]() |
| Rumah Gadang |
![]() | |||||||||||||||||
| Rumah Honai |
Rumah & Baju Adat Suku Sasak
RUMAH ADAT SASAK
Suku
Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, NTB. Sebagai
penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana
terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari
Majapahit. Dalam kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah
Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang suku Sasak telah
mempunyai sistem budaya yang mapan, maka kemampuannya untuk tetap eksis
sampai saat ini merupakan salah satu bukti bahwa suku ini mampu menjaga
dan melestarikan tradisinya.
Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan
Sasak adalah bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah bukan sekadar tempat
hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan
pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata
ruangnya. Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti
gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari
permukaan tanah. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang,
dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan
tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang
induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa
tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang
disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.
BUSANA ADAT SASAK
Busana Adat Sasak : adalah busana yang dibuat dipakai serta didukung oleh masyarakat sasak . Busana Adat Sasak dalam perkembanganya dipengaruhi oleh budaya Etnis Melayu, Jawa, Bali dan Bugis. Pengaruh dari berbagai etnis tersebut beralkulturasi menjadi satu dalam tampilan Busana Adat Sasak. Busana adat Sasak di berbagai lokus budaya/ sub etnik juga kita dapatkan berbagai bentuk variasi yang mencirikannya. Dikarenakan budaya Sasak bersendikan agama maka busana Sasak disesuikan dengan aturan agama yang dianut ( mayoritas orang Sasak ; pemeluk Islam). Pemakaian busana adat dilakukan untuk kegiatan yang berkenaan dengan adat dengan tatacara yang beradat. Busana Adat berbeda dengan pakaian kesenian yang boleh memakai “sumping” , berkaca mata hitam, menggunakan pernik-pernik yang menyala keemasan. Dalam ketentuan dalam seminar dan lokakarya Pakain Adat Sasak yang dihadiri oleh para budayawan dan masyarakat adat, telah disepakati pedoman dasar busana adat sasak , jenis dan maknanya sbb.~ Laki - laki :
- Capuq/Sapuk ( batik, palung , songket)
- Baju Pegon ( warna gelap )
- Leang / dodot / tampet ( kain songket)
- Kain dalam dengan wiron / cute
- Keris
- Pemaja (pisau kecil tajam untuk meraut)
- Selendang Umbak ( khusus untuk para pemangku adat )
~ Perempuan :
- Pangkak : Mahkota
- Tangkong : Pakaian
- Tongkak : Ikat pinggang
- Lempot : selendang
- Asesoris
- Alas kaki : selop
Kesenian Khas Bali yang sudah Mendunia

Mungkin kebanyak para wisatawan mengira bahwa Bali adalah sebuah negara, tetapi sebenarnya Bali adalah sebuah provinsi bagian dari Insonesia. Berikut ini kita akan membahas tentang tarian khas Bali yang telah mendunia.
Kesenian
tari bali ini memang sangat di kagumi oleh banyak wisatawan asing
seperti wisatawan dari AS, Tailan, Australia, Jerman, Jepang dan juga
Cina, karena mereka suka dengan tarian anak bangsa indonesia yang
semakin tersohor karena karya kesenian tari mereka ini. Banyak sekali
turis yang mau berkunjung untuk bisa belajar tari bali karena mereka
suka sekali dengan cerita dan juga pertunjukan seni bali itu sendiri,
bali sangat banyak di temui sanggar tari apa itu tari seperti tari leak
atau tari legong yang sudah sangat terkenal sekali.
Tari
bali adalah tarian yang mengisahkan berdirinya bali dan juga
persembahan di mana sangang maha widi memberikan petunjuga bagi manusia
agar bisa beriman dan juga ada yang memceritakan bagaimana angkara
murka bisa di basmi seperti kisah ramah sinta. Unsur tari bali ini di
angkat dari cerita rakyat yang sudah di anut turun temurun hingga saat
ini masi sangat di budi dayakan karena karya seni bali di yakini bisa
mempunyai nilai seni megis yang bisa mengusir angkara murka di
kehidupan mereka.
Karya seni tari bali ini sudah di wariskan turun
temurun dari nenek moyang bangsa indonesia dan mempunyai arti
tersendiri bagi rakyat bali, Memang saya akui bali bisa memberikan
ketentraman bagi orang-orang yang berpariwisata di sana karena di sana
memberikan fasilitas yang bebas dan juga harus bisa mematuhi adat
setempat.
Yang
penting kita bisa memberikan yang terbaik seperti kesenian
tari bali yang selalu menyambut kedatangan paraturis luar negeri atau
dalam negeri yang selalu beta untuk bisa berlama-lama di pulau dewata
itu.
Kesenian Betawi
Sejumlah kesenian yang dikenal sebagai kesenian asli Betawi,
sebenarnya merupakan saksi betapa sejak beratus-ratus tahun lalu di
tanah Betawi telah terjadi akulturasi budaya dengan berbagai suku
bangsa. Apa sajakah kesenian itu? Nyok, kite simak!
> Ondel-ondel
Sekilas ondel-ondel mirip dengan ogoh-ogoh dari Bali. Ondel-ondel dipengaruhi oleh budaya Hindu. Seperti kita ketahui bersama dahulu tanah Betawi pernah dikuasai oleh kerajaan Hindu Tarumanegara. Pada saat itu pertanian mulai dikenal di tanah Betawi. Ondel-ondel diarak saat panen raya untuk menghormati Dewi Sri.
Sedangkan lambat laun filosofi ondel-ondel mulai bergeser. Boneka
besar setinggi sekitar 2 meter tersebut dipercaya sebagai simbol nenek
moyang yang menjaga anak-cucunya yang masih hidup. Makanya ondel-ondel
biasanya sengaja ‘ditanggap’ untuk memeriahkan hajatan besar Betawi.
Maksudnya untuk mengusir segala roh jahat yang akan mengganggu jalannya
acara.
> Tanjidor
Musik tanjidor diduga berasal dari bangsa Portugis yang datang di Batavia pada abad ke 14 hingga 16. Tanjidor sendiri berasal dari bahasa Portugis ‘tanger’ yang artinya bermain musik. Hanya saja lidah Betawi melafalkannya tanjidor.Pada zaman penjajahan Belanda, tanjidor biasa dimainkan oleh para budak untuk menghibur tuan kompeni dan para tamu. Sampai sekarang tanjidor masih dimainkan untuk memeriahkan pesta hajatan orang Betawi.
> Rebana
Musik rebana adalah musik khas Betawi yang bernafaskan Islam. Musik ini dipeengaruhi oleh budaya Timur Tengah. Sama seperti tanjidor, musik ini biasanya untuk memeriahkan pesta atau arak-arakan pengantin. Beberapa jenis musik rebana yang kita kenal, misalnya rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor juga rebana biang.
> Tari Topeng
Tari topeng yang memadukan seni musik, tari dan teater ini mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Sunda. Para penarinya menggunakan topeng mirip topeng Banjet (Karawang), hanya saja pada tari topeng Betawi menggunakan bahasa Betawi.
> Lenong Betawi
Teater rakyat khas Betawi yang dikenal sejak tahun 1920-an ini mendapatkan pengaruh kebudayaan Melayu. Ada dua jenis cerita dalam lenong yaitu Lenong Denes (bercerita tentang kerajaan atau kaum bangsawan) sementara Lenong Preman berkisah tentang kehidupan rakyat sehari-hari ataupun dunia jagoan. Lenong Denes biasanya menggunakan bahasa Melayu, sedangkan Lenong Preman menggunakan bahasa Betawi medok.
Dan masih banyak kebudayaan Betawi lain yang tak kalah menariknya.
10 Budaya Indonesia Yang Pernah Diklaim Malaysia
Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia tentu saja menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Namun, seiring dengan itu berhembus kabar bahwa kebudayaan Indonesia telah diklaim Malaysia.
10 Kebudayaan yang pernah diklaim Malaysia :
1. Batik
Kepemilikan batik sebagai warisan budaya tak berbenda menggelinding setelah Malaysia mengklaim sebagai warisan nenek moyangnya. Untuk mengakhiri polemik, Pemerintah Indonesia akhirnya mendaftarkan batik ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan.
2. Lagu Rasa Sayange
Polemik klaim lagu "Rasa Sayange" cepat berakhir. Pemerintah Malaysia sendiri yang mengakhirinya. 11 November 2007, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Budaya Malaysia, Rais Yatim mengakui bahwa Rasa Sayange adalah milik Indonesia.
3. Reog Ponorogo
Usai mengklaim Lagu Rasa Sayange, perilaku Malaysia yang suka mengklaim budaya Indonesia berlanjut. Namun masalah ini tidak berlanjut ke UNESCO karena Pemerintah Diraja Malaysia melakukan klarifikasi. Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain membantah bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo. Reog Ponorogo sendiri kata dia bukan sebagai budaya asli negaranya.
4. Wayang Kulit
Malaysia pernah mengklaim wayang kulit sebagai budayanya. Padahal sudah jelas wayang kulit ini adalah budaya khas Jawa. Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 27 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi.
5. Kuda Lumping
Tarian ini berasal dari Jawa. Namun, orang - orang Jawa mewariskannya kepada anak - anaknya yang sudah menetap di Malaysia sehingga diklaim sebagai budaya warisan negeri Jiran.
Klaim Rendang Padang tak berlangsung lama karena dalam catatan sejarah masakan yang paling enak di dunia itu bukanlah produk asli Malaysia. Masakan Rendang berasal dari Sumatera Barat.
7. Keris
Keris merupakan salah satu senjata para raja Majapahit. Wilayah yang paling banyak memakai keris adalah Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, Pesisir Kalimantan dan Sulawesi. Malaysia tak bisa mengklaimnya karena sejarah membuktikan bahwa budaya Indonesia.
Bukti keris merupakan budaya Indonesia terdapat di Candi Borobudur. Dalam satu panel relief Candi Borobudur ( abad ke - 9 ) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris.
8. Angklung
Angklung adalah budaya khas dari masyarakat Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Warisan leluhur ini juga pernah diklaim oleh Malaysia. Polemik klaim Malaysia berakhir setelah alat musik ini terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia di UNESCO sejak November 2010.
9. Tari Pendet dan Tari Piring
Kedua tari yang berasal dari Pulau Sumatera ini juga pernah diklaim Malaysia. Tari piring adalah salah satu seni tari tradisional di Minangkabau yang berasal dari Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat.
Sementara Tari Pendet dari Bali. Namun yang paling menonjol klaim Malaysia pada Tari Pendet. Sebab tari ini dijadikan sebagai iklan promosi kunjungan ke Malasyia “Visit Malaysia Years”.
10. Gamelan Jawa
Gamelan Jawa merupakan alat musik khas Jawa yang terdiri dari berbagai macam alat musik. Selain bonang, gong, ada pula rebab dan alat musik lainnya yang biasanya mengiringi wayang.
Sumber : http://www.belantaraindonesia.org/2012/06/10-budaya-indonesia-yang-pernah-di.html
10 Kebudayaan yang pernah diklaim Malaysia :
1. Batik
Kepemilikan batik sebagai warisan budaya tak berbenda menggelinding setelah Malaysia mengklaim sebagai warisan nenek moyangnya. Untuk mengakhiri polemik, Pemerintah Indonesia akhirnya mendaftarkan batik ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan.
3 September 2008 sebagai titik awal proses Nominasi Batik Indonesia ke UNESCO.
Namun baru diterima secara resmi oleh UNESCO pada 9 Januari 2009.
UNESCO kemudian melakukan pengujian tertutup di Paris 11-14 Mei 2009.
Hasilnya, 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Batik adalah milik Indonesia Malaysia tak berhak lagi mengklaimnya.
2. Lagu Rasa Sayange
Polemik klaim lagu "Rasa Sayange" cepat berakhir. Pemerintah Malaysia sendiri yang mengakhirinya. 11 November 2007, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Budaya Malaysia, Rais Yatim mengakui bahwa Rasa Sayange adalah milik Indonesia.3. Reog Ponorogo
Usai mengklaim Lagu Rasa Sayange, perilaku Malaysia yang suka mengklaim budaya Indonesia berlanjut. Namun masalah ini tidak berlanjut ke UNESCO karena Pemerintah Diraja Malaysia melakukan klarifikasi. Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain membantah bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo. Reog Ponorogo sendiri kata dia bukan sebagai budaya asli negaranya.4. Wayang Kulit
Malaysia pernah mengklaim wayang kulit sebagai budayanya. Padahal sudah jelas wayang kulit ini adalah budaya khas Jawa. Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 27 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi.
5. Kuda Lumping
Tarian ini berasal dari Jawa. Namun, orang - orang Jawa mewariskannya kepada anak - anaknya yang sudah menetap di Malaysia sehingga diklaim sebagai budaya warisan negeri Jiran.
6. Rendang Padang
Klaim Rendang Padang tak berlangsung lama karena dalam catatan sejarah masakan yang paling enak di dunia itu bukanlah produk asli Malaysia. Masakan Rendang berasal dari Sumatera Barat.
7. KerisKeris merupakan salah satu senjata para raja Majapahit. Wilayah yang paling banyak memakai keris adalah Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, Pesisir Kalimantan dan Sulawesi. Malaysia tak bisa mengklaimnya karena sejarah membuktikan bahwa budaya Indonesia.
Bukti keris merupakan budaya Indonesia terdapat di Candi Borobudur. Dalam satu panel relief Candi Borobudur ( abad ke - 9 ) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris.
8. Angklung
Angklung adalah budaya khas dari masyarakat Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Warisan leluhur ini juga pernah diklaim oleh Malaysia. Polemik klaim Malaysia berakhir setelah alat musik ini terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia di UNESCO sejak November 2010.
9. Tari Pendet dan Tari PiringKedua tari yang berasal dari Pulau Sumatera ini juga pernah diklaim Malaysia. Tari piring adalah salah satu seni tari tradisional di Minangkabau yang berasal dari Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat.
Sementara Tari Pendet dari Bali. Namun yang paling menonjol klaim Malaysia pada Tari Pendet. Sebab tari ini dijadikan sebagai iklan promosi kunjungan ke Malasyia “Visit Malaysia Years”.
10. Gamelan Jawa
Gamelan Jawa merupakan alat musik khas Jawa yang terdiri dari berbagai macam alat musik. Selain bonang, gong, ada pula rebab dan alat musik lainnya yang biasanya mengiringi wayang.
Sumber : http://www.belantaraindonesia.org/2012/06/10-budaya-indonesia-yang-pernah-di.html
Alat Musik Tradisional Indonesia
Beberapa Alat Musik Tradisional Indonesia :
1.Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional yang berkembang dalam
kebudayaan masyarakat Sunda dan Jawa Barat. Kita boleh berbangga karena
Angklung telah terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan
Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak Novenber 2010. Alat musik ini
dibuat dari bambu. Nada-nada yang dihasilkan alat musik ini berasal dari
benturan badan pipa bambu yang menghasilkan bunyi yang bergetar dalam
susunan nada 2, 3, sampai 4 pada setiap ukuran angklung.Angklung sudah dikenal oleh masyarakat Sunda dan sekitarnya sejak zaman dahulu. Walaupun belum ada catatan sejarah yang dapat membuktikan kapan tepatnya alat musik ini ditemukan, namun dipercaya bahwa lat musik ini merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kerajaan nusantara. Saat ini semakin sedikit generasi muda yang mahir memainkan alat musik ini. Namun, dengan kesadaran bahwa angklung adalah salah satu alat musik tradisional Indonesia yang telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya dunia, beberapa pihak mulai merintis pengembangan pelatihan angklung khususnya di wilayah-wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
2.Gamelan
Gamelan adalah alat musik yang terdiri dari : Kendhang (gendang),
Demung, Saron, Peking, Gong, Kempul, Bonang, Slenthem, Kethuk dan
Kenong, Gender, Gambang, Rebab, Siter, dan Suling. Istilah Gamelan
berasal dari bahasa Jawa, berarti “gamel” yang berarti memukul /
menabuh. Dan diikuti dengan akhiran “an” yang menjadikannya sebuah kata
benda. Selain itu diantara satu kota dan lainnya (di Indonesia),
Gamelan memiliki berbagai macam jenis dan ukuran. Dalam sejarahnya,
Gamelan berasal dari zaman Hindu-Budha, tepatnya pada zaman kerajaan
Majapahit3.Suling Sunda
Suling ini sudah sangat sering digunakan tidak hanya dalam menciptakan
instrumen musik saja, namun yang paling sering terdengar adalah dalam
musik dangdut. Suling Sunda juga termasuk alat kesenian asli Bandung
yang patut dilestarikan, memainkan suling Sunda yang kelihatannya simple
ternyata susah dan butuh keahlian dalam memainkan nada-nadanya. Suling
ini terbuat dari bambu, bambunya pun harus bambu pilihan, tidak semua
bambu bisa digunakan untuk membuat seruling, sekalipun bisa, suara atau
nada yang dihasilkan tidak terlalu baik. 4.Sasando
Sasando sendiri adalah sebuah alat instrumen musik petik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7. Bentuk sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan kecapi.
Sumber: http://www.neraca.co.id/2012/10/02/mengenal-alat-musik-tradisional-indonesia/
Kesenian Khas Pulau Lombok
Ke Lombok??? Gag afdol kalo belum ngeliat kesenian khas Lombok yang satu ini "Gendang Beleq". Disebut demikian karena ukurannya yang besar banget melebihi ukuran gendang yang biasa. Awalnya Gendang Beleq merupakan alat musik, namun kalau dilihat dari cara penyajiannya Gendang Beleq juga bisa disebut sebagai seni tari.
Pada awalnya fungsi Gendang Beleq untuk mengiringi dan menghibur prajurit ke medan perang dan menyambut mereka pulang dari medan perang. Tapi, seiring berkembangnya zaman sekarang Gendang Beleq digunukan untuk mengiringi pengantin, menyambut tamu - tamu terhormat, dan acara - acara resmi lainnya.

Gendang Beleq terdiri atas 2 penabuh gendang, 4 atau 6 penari oceh/oncer (karena si penari memegang alat musik yang disebut copeh), 1 orang penari petuk (Karena si penari memegang alat musik yang disebut petuk). Gendang Beleq dalam penyajiannya dikombinasikan dengan beberapa alat musik juga, antara lain suling, gong, terumpang, kenceng, oncer, pencek.
Penari Gendang Beleq memakai busana celana tiga perempat, baju krah sanghai lengan panjang, ikat pinggang, kain tiga perempat, dodot, dan ikat kepala, sedang penari oncer mengenakan busana celana tiga perempat, baju krah sanghai lengan panjang, ikat pinggang, kain tiga perempat, ikat kepala, dan hiasan dada.

Gendang Beleq terdiri atas 2 penabuh gendang, 4 atau 6 penari oceh/oncer (karena si penari memegang alat musik yang disebut copeh), 1 orang penari petuk (Karena si penari memegang alat musik yang disebut petuk). Gendang Beleq dalam penyajiannya dikombinasikan dengan beberapa alat musik juga, antara lain suling, gong, terumpang, kenceng, oncer, pencek.
Penari Gendang Beleq memakai busana celana tiga perempat, baju krah sanghai lengan panjang, ikat pinggang, kain tiga perempat, dodot, dan ikat kepala, sedang penari oncer mengenakan busana celana tiga perempat, baju krah sanghai lengan panjang, ikat pinggang, kain tiga perempat, ikat kepala, dan hiasan dada.
WHEN YOU VISIT LOMBOK, DON'T FORGET TO SEE THIS ART :D !!!
Kamis, 01 November 2012
Kebudayaan & Kesenian Unik Khas Indonesia
Sebagai orang Indonesia, kita harus mencintai budaya kita. Indonesia adalah negara yang menajubkan yang memiliki kebudayaan yang sangat unik.
Berasal
dari kata ‘tabut’, dari bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara
Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera
Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di
hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam.
Konon, Tabuik dibawa oleh penganut Syiah dari timur tengah ke Pariaman, sebagai peringatan perang Karbala. Upacara ini juga sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW itu.
Karena kemeriahan dan keunikan dalam setiap pagelarannya, Pemda setempat pun kemudian memasukkan upacara Tabuik dalam agenda wisata Sumatera Barat dan digelar setiap tahun.
Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara Tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan. Mereka membuat serta aneka penganan, kue-kue khas dan Tabuik. Dalam masa ini, ada pula warga yang menjalankan ritual khusus, yakni puasa.
Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap.
Oleh umatIslam, binatang ini disebut Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.
Walau
Madura punya Kerapan Sapi, maka Bali memiliki Makepung. Dua tradisi
yang serupa tapi tak sama, namun menjadi tontonan unik yang segar
sekaligus menghibur. yang dalam bahasa Indonesia berarti
berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah
lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.
Tradisi ini awalnya hanyalah permainan para petani yang dilakukan di sela-sela kegiatan membajak sawah di musim panen. Kala itu, mereka saling beradu cepat dengan memacu kerbau yang dikaitkan pada sebuah gerobak dan dikendalikan oleh seorang joki.
Makin lama, kegiatan yang semula iseng itu pun berkembang dan makin diminati banyak kalangan. Kini, Makepung telah menjadi salah satu atraksi budaya yang paling menarik dan banyak ditonton oleh wisatawan termasuk para turis asing. Tak hanya itu, lomba pacu kerbau inipun telah menjadi agenda tahunan wisata di Bali dan dikelola secara profesional. Sekarang ini, Makepung tidak hanya diikuti oleh kalangan petani saja.
Para pegawai dan pengusaha dari kota pun banyak yang menjadi peserta maupunsupporter. Apalagi, dalam sebuah pertarungan besar, Gubernur Cup misalnya, peserta Makepung yang hadir bisa mencapai sekitar 300 pasang kerbau atau bahkan lebih. Suasana pun menjadi sangat meriah dengan hadirnya para pemusik jegog(gamelan khas Bali yang terbuat dari bambu) untuk menyemarakkan suasana lomba.
Atraksi
yang sangat berbahaya yang biasa kita kenal dengan sebutan Debus, Konon
kesenian bela diri debus berasal dari daerah al Madad. Semakin lama
seni bela diri ini makin berkembang dan tumbuh besar disemua kalangan
masyarakat banten sebagai seni hiburan untuk masyarakat. Inti
pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan
penggunaan senjata.
Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata tajam ini disebut dengan debus.
Kesenian ini tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalna kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama, namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa.
Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat banten melawan penjajahan yang dilakukan belanda. Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih. Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus.
Karapan
sapi yang merupakan perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Madura
Jawa Timur, Dalam even karapan sapi para penonton tidak hanya disuguhi
adu cepat sapi dan ketangkasan para jokinya, tetapi sebelum memulai para
pemilik biasanya melakukan ritual arak-arakan sapi disekelilingi pacuan
disertai alat musik seronen perpaduan alat music khas Madura sehingga
membuat acara ini menjadi semakin meriah.
Panjang rute lintasan karapan sapi tersebut antara 180 sampai dengan 200 meter, yang dapat ditempuh dalam waktu 14 sd 18 detik. Tentu sangat cepat kecepatan sapi – sapi tersebut, selain kelihaian joki terkadang bamboo yang digunakan untuk menginjak sang joki melayang diudara karena cepatnya kecepatan sapi sapi tersebut. Untuk memperoleh dan menambah kecepatan laju sapi tersebut sang joki, pangkal ekor sapi dipasangi sabuk yang terdapat penuh paku yang tajam dan sang joki melecutkan cambuknya yang juga diberi duri tajam kearah bokong sapi. Tentu saja luka ini akan membuat sapi berlari lebih kencang, tetapi juga menimbulkan luka disekitar pantat sapi. Jarak pemenang terkadang selisih sangat tipis, bahkan tidak jarang hanya berjarak 1 sd 2 detik saja. Karapan Sapi dimadura merupakan pagelaran yang sangat unik, selain sudah diwarisi secara turun menurun tradisi ini juga terjaga sampai sekarang. Even ini dijadikan sebagai even pariwisata di Indonesia, dan tidak hanya turis local dari mancanegara pun banyak yang menyaksikan karapan sapi ini.
Upacara
Kasada bromo dilakukan oleh masyarakat Tengger yang bermukim di Gunung
Bromo Jawa Timur, mereka melakukan ritual ini untuk mengangkat seorang
Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para
tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera.
Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan
sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo.
Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesajo dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir gunung bromo. Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara ritual, perkawinan dll.
Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.
Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo
#1. Upacara Tabuik dari Sumatera Barat.
Berasal
dari kata ‘tabut’, dari bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara
Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera
Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di
hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam.Konon, Tabuik dibawa oleh penganut Syiah dari timur tengah ke Pariaman, sebagai peringatan perang Karbala. Upacara ini juga sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW itu.
Karena kemeriahan dan keunikan dalam setiap pagelarannya, Pemda setempat pun kemudian memasukkan upacara Tabuik dalam agenda wisata Sumatera Barat dan digelar setiap tahun.
Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara Tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan. Mereka membuat serta aneka penganan, kue-kue khas dan Tabuik. Dalam masa ini, ada pula warga yang menjalankan ritual khusus, yakni puasa.
Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap.
Oleh umatIslam, binatang ini disebut Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.
#2. Makepung, Balap Kerbau di Bali.
Walau
Madura punya Kerapan Sapi, maka Bali memiliki Makepung. Dua tradisi
yang serupa tapi tak sama, namun menjadi tontonan unik yang segar
sekaligus menghibur. yang dalam bahasa Indonesia berarti
berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah
lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.Tradisi ini awalnya hanyalah permainan para petani yang dilakukan di sela-sela kegiatan membajak sawah di musim panen. Kala itu, mereka saling beradu cepat dengan memacu kerbau yang dikaitkan pada sebuah gerobak dan dikendalikan oleh seorang joki.
Makin lama, kegiatan yang semula iseng itu pun berkembang dan makin diminati banyak kalangan. Kini, Makepung telah menjadi salah satu atraksi budaya yang paling menarik dan banyak ditonton oleh wisatawan termasuk para turis asing. Tak hanya itu, lomba pacu kerbau inipun telah menjadi agenda tahunan wisata di Bali dan dikelola secara profesional. Sekarang ini, Makepung tidak hanya diikuti oleh kalangan petani saja.
Para pegawai dan pengusaha dari kota pun banyak yang menjadi peserta maupunsupporter. Apalagi, dalam sebuah pertarungan besar, Gubernur Cup misalnya, peserta Makepung yang hadir bisa mencapai sekitar 300 pasang kerbau atau bahkan lebih. Suasana pun menjadi sangat meriah dengan hadirnya para pemusik jegog(gamelan khas Bali yang terbuat dari bambu) untuk menyemarakkan suasana lomba.
#3. Atraksi Debus dari Banten
Atraksi
yang sangat berbahaya yang biasa kita kenal dengan sebutan Debus, Konon
kesenian bela diri debus berasal dari daerah al Madad. Semakin lama
seni bela diri ini makin berkembang dan tumbuh besar disemua kalangan
masyarakat banten sebagai seni hiburan untuk masyarakat. Inti
pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan
penggunaan senjata.Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata tajam ini disebut dengan debus.
Kesenian ini tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalna kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama, namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa.
Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat banten melawan penjajahan yang dilakukan belanda. Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih. Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus.
#4.Karapan Sapi dari Madura Jawa Timur
Karapan
sapi yang merupakan perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Madura
Jawa Timur, Dalam even karapan sapi para penonton tidak hanya disuguhi
adu cepat sapi dan ketangkasan para jokinya, tetapi sebelum memulai para
pemilik biasanya melakukan ritual arak-arakan sapi disekelilingi pacuan
disertai alat musik seronen perpaduan alat music khas Madura sehingga
membuat acara ini menjadi semakin meriah.Panjang rute lintasan karapan sapi tersebut antara 180 sampai dengan 200 meter, yang dapat ditempuh dalam waktu 14 sd 18 detik. Tentu sangat cepat kecepatan sapi – sapi tersebut, selain kelihaian joki terkadang bamboo yang digunakan untuk menginjak sang joki melayang diudara karena cepatnya kecepatan sapi sapi tersebut. Untuk memperoleh dan menambah kecepatan laju sapi tersebut sang joki, pangkal ekor sapi dipasangi sabuk yang terdapat penuh paku yang tajam dan sang joki melecutkan cambuknya yang juga diberi duri tajam kearah bokong sapi. Tentu saja luka ini akan membuat sapi berlari lebih kencang, tetapi juga menimbulkan luka disekitar pantat sapi. Jarak pemenang terkadang selisih sangat tipis, bahkan tidak jarang hanya berjarak 1 sd 2 detik saja. Karapan Sapi dimadura merupakan pagelaran yang sangat unik, selain sudah diwarisi secara turun menurun tradisi ini juga terjaga sampai sekarang. Even ini dijadikan sebagai even pariwisata di Indonesia, dan tidak hanya turis local dari mancanegara pun banyak yang menyaksikan karapan sapi ini.
#5. Upacara Kasada di Bromo
Upacara
Kasada bromo dilakukan oleh masyarakat Tengger yang bermukim di Gunung
Bromo Jawa Timur, mereka melakukan ritual ini untuk mengangkat seorang
Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para
tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera.
Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan
sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo.Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesajo dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir gunung bromo. Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara ritual, perkawinan dll.
Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.
Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo
Kamis, 18 Oktober 2012
Pengertian Seni dan Budaya Indonesia
Seni adalah suatu cara dari diri kita sendiri untuk mengekspresikan sesuatu, yang mungkin tidak dapat kita ungkapkan dengan kata-kata. Kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia. Jadi, seni budaya adalah suatu ide atau gagasan yang digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata.
Kebudayaan dan kesenian Indonesia menyandang julukan Bhineka Tunggal Ika karena memiliki kebudayaan yang sangat beraneka ragam. Kesenian dan kebudayaan Indonesia yang membentang dari sabang sampai merauke banyaknya tak terhingga mulai dari tarian, alat musik, pakaian adat, rumah adat, dan upacara - upacara adat yang tak kalah menarik.
![]() |
So be proud to be Indonesian
Langganan:
Postingan (Atom)











